Hari ini
begitu gelap dalam benakku, matahari yang bersinar terang kemudian meredup
seketika. Awan hitam mulai mengikis cahayaku. Entah sudah berapa lama aku duduk
termenung menyaksikan orang berlalu lalang tanpa tujuan. Aku pun tak paham apa
yang aku tunggu dan apa yang aku nanti. Kemudian siapa yang akan datang dan
kembali pulang saja sama sekali tak terfikirkan dalam benakku, tapi sayangnya
aku benar-benar masih mengingat satu wajah. Aku ingin dia datang dalam hidup
nyataku bukan hanya sekedar mimpi dan angan-angan.
“Aku
menunggumu, disini aku menantimu..” Kesabaranku selalu terombang-ambing teruji,
dan entah sampai kapan aku mampu bertahan atau aku akan berhenti hingga
menyerah. Waktu mengikis menggerogoti harapan namun keyakinan serta perasaan
justru menggali lebih dalam. Aku terlalu bodoh untuk menunggu.. karena dia
sungguh tak akan datang seperti yang selalu diharapkan. Aku terlalu bodoh untuk
menanti.. bahkan dia membalas sepucuk suratku saja tak pernah apalagi
melontarkan senyum dihadapan. Aku terlalu bodoh untuk berharap.. karena dia tak
pernah mengharapkan keberadaanku.
Pengharapanku
terlalu tinggi untuk bisa melihatnya hari ini, beberapa kali ku lirik jam
tangan memandangi jarum berputar detik demi detik, tapi dia pun tak kunjung ku
temukan. Aku memang bodoh hingga aku lupa sudah berapa tahun lamanya ku
habiskan hanya untuk menanti. Kegiatan yang membosankan menunggu yang tak
kunjung datang hingga musim berganti.
Aku sudah
sangat lelah seperti berada pada ujung daun yang tak tahu arah. Aku sudah mulai
layu menunggu sinar kembali. Sepertinya sudah saatnya aku menyerah dan pasrah.
Aku sudah letih melewati semua ini tapi, ternyata Tuhan memberikan jalan lain, aku
selalu diberi kesabaran lebih seakan tak pernah habis. Ketika logika meminta
untuk berhenti namun hatiku menolak untuk menyerah. Ketika langkahku mulai
berjalan mundur namun pikiranku justru mendorong maju. Pada akhirnya aku masih
disini menunggunya, entah sampai kapan aku harus berhenti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar