Di malam hari yang sunyi, aku sendiri
terpaku menatap langit memandangi cahaya kelap-kelip. Fikiran ku melayang
seolah-olah aku tak sadarkan diri. Aku teringat dengan sosok seseorang yang
kini singgah di hati ku. Entah mengapa dia selalu menghampiri fikiran ku
sehingga aku selalu terbayang-bayang sosok itu. Sosok itu adalah seseorang yang
ku kenal sepuluh bulan yang lalu. Awalnya pertemuan itu tak ada artinya, tak
sengaja menyapa melalui sebuah nama yang tertulis pada kemeja, namun setelah
beberapa bulan aku pun masih mengingatnya. Hembusan angin samar-samar menambah
suasana sunyinya malam. Ku dengar suara lonceng jam dinding di kamar ku yang
telah menunjukkan angka duabelas hingga menyadarkan lamunan ku, ini sudah
tengah malam. Ku geletakkan tubuh ku diatas kasur tempat tidur ku, tarik selimut
bersama satu putaran lagu penghantar perjalanan ku ke pulau kapuk.
Suatu
hari ku temui sosok itu, tak heran ia selalu tersenyum manis di depan ku dan
kita selalu asik bercanda gurau seakan kita memang benar-benar dekat setelah
pertemuan itu. Kita selalu bertemu bersapa dan berjalan berama-sama. Ku dengar
suara kicauan burung-burung yang nampak beterbangan bergerombol mengepakkan
sayapnya di atas langit. Kicauan burung cukup jelas ku dengar bagaikan sedang
bernyanyi bersama, lalu hembusan angin kencang menghampiri ku. Aku pejamkan
mata ini sejenak menghindar dari debu-bedu, lalu ku buka mataku. Aku masih
berbaring diatas kasur, hari sudah pagi. Bukan hanya sekali aku bermimpi
bertemu dirinya. “jika mimpi ku lebih indah, maka aku tak ingin bangun” hanya
kalimat itulah yang sempat ku fikirkan setelah ku buka mataku lebar-lebar.
Segera ku beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.
Siang
ini matahari menyinari menyengat kulit kering ini. Mata ku tak lagi mampu
melihat jelas dalam kesempitan ruang yang terpisahkan oleh jarak yang cukup
mengganggu pandangan ku. Sesekali aku masih mencari sosok itu, dimana aku bisa
menemukan dalam ruang sempit bersama segerombolan pemuda yang sedang asik
berbincang-bincang melontarkan kata-kata hingga berharap dapat ku perhatikan
walau hanya dari kejauhan. Pengharapan ku terlalu tinggi untuk bisa melihatnya
siang ini, beberapa kali ku lirik jam tangan memandangi jarum berputar detik ke
detik namun sosok itu pun tak kunjung ku temukan. Mencari kesempatan mengalihkan
pandangan ku ke kanan dan ke kiri dan berpura-pura seolah tak terjadi sesuatu
yang membuat orang lain penasaran dengan apa yang sedang ku cari. Hal semacam
ini mungkin sudah ku lakukan puluhan kali, menyapa dan berbicara bersama mereka
teman-teman seperjuangan ku menjalani aktivitas tiap hari seolah hanyut
mendalami peran ku dalam masalah ku sendiri di dunia ini, namun tidak dengan
fikiran ku yang masih memusat mencari sosok dalam ingatan ku. Lagi dan lagi aku
dituntut untuk berperan profesional seperti semestinya.
Kesibukan
tak membantu ku melupakan bayangan itu dalam benak ku, seolah telah melekat
bersama saraf-saraf yang ada pada otak ku. Aku berusaha terbaik menjalani
kewajiban ku lima waktu sedisiplin yang ingin ku lakukan hingga berusaha
menghilangkan rasa malas yang selalu menggoda diri yang nista ini, bahkan
bayangan dirinya seolah mengingatkan untuk meminjam namanya dalam setiap sujud ku.
Herannya aku merasa nyaman terjatuh, terjatuh dalam perasaan yang salah. Ini
bukan lagi candu, memparasit seolah apa yang ku lakukan sepuluh bulan ini tak
terlepas olehya. Hati dan fikiran seakan berkompromi selalu berangan-angan dan
bermimpi dirinya. Dirinya seperti ambisi atau hanya sebuah ekspektasi hingga
aku sudah tak mengerti bagaimana caranya berhenti. Bahkan aku merasa sedih atau
senang seperti hanya mimpi.
Sore ini aku
termenung sendiri, fikiran ku melayang, hanyalah bayangan dan wajah dirinya
yang ada dalam benak ku. Ku coba untuk memejamkan mataku sejenak justru
bayangan itu mengikutiku lebih tajam, ku kedipkan mata ku setiap dua detik
namun tiada berkutik menghilang justru semakin terlihat jelas. Ia selalu ada
dalam ingatan ku. Aku mengerti, aku memahami, aku menyadari apa yang telah ku
lewati, semua seakan tak pernah terpisahkan oleh bayangan dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar