Senin, 12 Desember 2016

Melekat dalam Ingatan

       Di malam hari yang sunyi, aku sendiri terpaku menatap langit memandangi cahaya kelap-kelip. Fikiran ku melayang seolah-olah aku tak sadarkan diri. Aku teringat dengan sosok seseorang yang kini singgah di hati ku. Entah mengapa dia selalu menghampiri fikiran ku sehingga aku selalu terbayang-bayang sosok itu. Sosok itu adalah seseorang yang ku kenal sepuluh bulan yang lalu. Awalnya pertemuan itu tak ada artinya, tak sengaja menyapa melalui sebuah nama yang tertulis pada kemeja, namun setelah beberapa bulan aku pun masih mengingatnya. Hembusan angin samar-samar menambah suasana sunyinya malam. Ku dengar suara lonceng jam dinding di kamar ku yang telah menunjukkan angka duabelas hingga menyadarkan lamunan ku, ini sudah tengah malam. Ku geletakkan tubuh ku diatas kasur tempat tidur ku, tarik selimut bersama satu putaran lagu penghantar perjalanan ku ke pulau kapuk.
       Suatu hari ku temui sosok itu, tak heran ia selalu tersenyum manis di depan ku dan kita selalu asik bercanda gurau seakan kita memang benar-benar dekat setelah pertemuan itu. Kita selalu bertemu bersapa dan berjalan berama-sama. Ku dengar suara kicauan burung-burung yang nampak beterbangan bergerombol mengepakkan sayapnya di atas langit. Kicauan burung cukup jelas ku dengar bagaikan sedang bernyanyi bersama, lalu hembusan angin kencang menghampiri ku. Aku pejamkan mata ini sejenak menghindar dari debu-bedu, lalu ku buka mataku. Aku masih berbaring diatas kasur, hari sudah pagi. Bukan hanya sekali aku bermimpi bertemu dirinya. “jika mimpi ku lebih indah, maka aku tak ingin bangun” hanya kalimat itulah yang sempat ku fikirkan setelah ku buka mataku lebar-lebar. Segera ku beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.
       Siang ini matahari menyinari menyengat kulit kering ini. Mata ku tak lagi mampu melihat jelas dalam kesempitan ruang yang terpisahkan oleh jarak yang cukup mengganggu pandangan ku. Sesekali aku masih mencari sosok itu, dimana aku bisa menemukan dalam ruang sempit bersama segerombolan pemuda yang sedang asik berbincang-bincang melontarkan kata-kata hingga berharap dapat ku perhatikan walau hanya dari kejauhan. Pengharapan ku terlalu tinggi untuk bisa melihatnya siang ini, beberapa kali ku lirik jam tangan memandangi jarum berputar detik ke detik namun sosok itu pun tak kunjung ku temukan. Mencari kesempatan mengalihkan pandangan ku ke kanan dan ke kiri dan berpura-pura seolah tak terjadi sesuatu yang membuat orang lain penasaran dengan apa yang sedang ku cari. Hal semacam ini mungkin sudah ku lakukan puluhan kali, menyapa dan berbicara bersama mereka teman-teman seperjuangan ku menjalani aktivitas tiap hari seolah hanyut mendalami peran ku dalam masalah ku sendiri di dunia ini, namun tidak dengan fikiran ku yang masih memusat mencari sosok dalam ingatan ku. Lagi dan lagi aku dituntut untuk berperan profesional seperti semestinya.
       Kesibukan tak membantu ku melupakan bayangan itu dalam benak ku, seolah telah melekat bersama saraf-saraf yang ada pada otak ku. Aku berusaha terbaik menjalani kewajiban ku lima waktu sedisiplin yang ingin ku lakukan hingga berusaha menghilangkan rasa malas yang selalu menggoda diri yang nista ini, bahkan bayangan dirinya seolah mengingatkan untuk meminjam namanya dalam setiap sujud ku. Herannya aku merasa nyaman terjatuh, terjatuh dalam perasaan yang salah. Ini bukan lagi candu, memparasit seolah apa yang ku lakukan sepuluh bulan ini tak terlepas olehya. Hati dan fikiran seakan berkompromi selalu berangan-angan dan bermimpi dirinya. Dirinya seperti ambisi atau hanya sebuah ekspektasi hingga aku sudah tak mengerti bagaimana caranya berhenti. Bahkan aku merasa sedih atau senang seperti hanya mimpi.
       Sore ini aku termenung sendiri, fikiran ku melayang, hanyalah bayangan dan wajah dirinya yang ada dalam benak ku. Ku coba untuk memejamkan mataku sejenak justru bayangan itu mengikutiku lebih tajam, ku kedipkan mata ku setiap dua detik namun tiada berkutik menghilang justru semakin terlihat jelas. Ia selalu ada dalam ingatan ku. Aku mengerti, aku memahami, aku menyadari apa yang telah ku lewati, semua seakan tak pernah terpisahkan oleh bayangan dirinya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar