Saat
itu dibawah pohon kenanga pada 2016, aku dan kamu bertatap muka. Panjang tujuh
puluh lima centimeter lebih tepatnya memisahkan jarak antaranya. Kini engkau
berada di hadapanku, tepat ketika membuka mata adalah bayangmu. Engkau pun
berkata bahwa aku membencimu. Tidakkah pertanyaan itu untukmu sendiri? Atas
dasar apa engkau mengatakannya?
Bintang-bintang
masih berkelip menyaksikan, namun tak kalah indah dengan parasmu dibawah lampu
temaram. Engkau pun tersenyum polos,
berharap malam ini bersahabat menjadi malam yang panjang. Aku pun masih takjub
terhadap pernyataan yang keluar dari mulut, dari bibirmu yang tipis. Tidakkah engkau
memahaminya selama ini?. Bilasaja engkau memiliki rasa, sudah seharusnya engkau
mengatakannya padaku. Haruskah aku bertanya terlebih dahulu?
Aku
membencimu ketika aku tak bisa berbicara denganmu. Aku benci ketika tak ada
waktu yang bisa kita habiskan berdua. Aku benci ketika engkau tersenyum bersama
perempuan lain. Aku benci. Aku benci ketika engkau jauh dari lingkunganku. Aku
benci engkau tertawa bahagia tanpa adanya diriku. Aku sangat benci. Lantas apa
setelah semua celotehanku? Engkau pun hanya terdiam tanpa kata. Senyum yang
mewarnai terangnya malam itu melebur bersama wajahmu yang menunduk. Begitulah,
sudah cukup menjelaskan kah bahwa aku menyukaimu dengan cara yang seperti itu?
Suasana
pun menjadi hening selama tiga menit lebih tepatnya. Engkau pun angkat bicara,
menyanggah mengapa tak pria lain saja yang lebih mampu membahagiakanku? Tidak.
Apakah baru saja engkau mematahkan harapanku?. Aku tak ingin engkau seperti
pangeran yang hidup dalam dongeng, karena aku tak berharap menjadi putri salju.
Aku tak ingin engkau seperti Romeo karena aku hidup bukan untuk mati bersamamu
seperti Juliet. Aku tak berharap kisah ini seperti romance picisan pada kiranya sebuah film. Yang ku ingini hanya
benar-benar kisah antara nama ‘aku’ dan ‘kamu’ . Mencintaimu itu tak mudah,
bila memang harus patah, itu sudah sejak dulu. Bila memang harus berhenti, itu
sudah ku mulai namun tak kunjung selesai. Begitulah, aku membencimu dengan cara
seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar