Senin, 29 Mei 2017

Garis Waktu

Biarkan kita begini saja. Biarkan waktu yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan. Kebahagiaan dan hari esok pun tak bisa dijamin. Apalah aku ini yang hanya ingin meminjammu sebentar karena aku tahu tak bisa memilikimu. Kau ada karena Tuhan dan kelak akan kembali pada-Nya.

Kau pergi menjauh, aku pun tak mampu menahanmu, bahkan mengejarmu yang sedang berlari. Aku sudah tinggi lalu aku terjatuh, untuk berusaha terbang lagi pun aku sulit. Bagaimana lagi aku harus naik sementara sayap saja aku tak punya.

Dan aku tak mau menyalahkan sang waktu yang telah berbaik hati mengenalkanmu padaku. Apa yang telah terjadi ini bukan hanya kebetulan, namun telah digariskan. Tak wajar jika harus tertanam kebencian,oleh karenanya aku bisa mengambil pelajaran. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan.

Mungkin aku harus mengalahkan egoku, membiarkanmu memilih tulang rusuk yang lain. Sakit memang, tapi aku bisa apa ketika Tuhan berkehendak, dialah pasangan tulang rusukmu.

Hujan turun tanpa tanggung-tanggung seperti menggambarkan hatiku yang memilu. Semuanya telah berubah semenjak jarak memisahkan dan hujan yang menahan waktu. Waktu yang mematahkan begitu pula menyembuhkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar