Senin, 06 Februari 2017

Benci

                Saat itu dibawah pohon kenanga pada 2016, aku dan kamu bertatap muka. Panjang tujuh puluh lima centimeter lebih tepatnya memisahkan jarak antaranya. Kini engkau berada di hadapanku, tepat ketika membuka mata adalah bayangmu. Engkau pun berkata bahwa aku membencimu. Tidakkah pertanyaan itu untukmu sendiri? Atas dasar apa engkau mengatakannya?
                Bintang-bintang masih berkelip menyaksikan, namun tak kalah indah dengan parasmu dibawah lampu temaram. Engkau pun tersenyum  polos, berharap malam ini bersahabat menjadi malam yang panjang. Aku pun masih takjub terhadap pernyataan yang keluar dari mulut, dari bibirmu yang tipis. Tidakkah engkau memahaminya selama ini?. Bilasaja engkau memiliki rasa, sudah seharusnya engkau mengatakannya padaku. Haruskah aku bertanya terlebih dahulu?
                Aku membencimu ketika aku tak bisa berbicara denganmu. Aku benci ketika tak ada waktu yang bisa kita habiskan berdua. Aku benci ketika engkau tersenyum bersama perempuan lain. Aku benci. Aku benci ketika engkau jauh dari lingkunganku. Aku benci engkau tertawa bahagia tanpa adanya diriku. Aku sangat benci. Lantas apa setelah semua celotehanku? Engkau pun hanya terdiam tanpa kata. Senyum yang mewarnai terangnya malam itu melebur bersama wajahmu yang menunduk. Begitulah, sudah cukup menjelaskan kah bahwa aku menyukaimu dengan cara yang seperti itu?
                Suasana pun menjadi hening selama tiga menit lebih tepatnya. Engkau pun angkat bicara, menyanggah mengapa tak pria lain saja yang lebih mampu membahagiakanku? Tidak. Apakah baru saja engkau mematahkan harapanku?. Aku tak ingin engkau seperti pangeran yang hidup dalam dongeng, karena aku tak berharap menjadi putri salju. Aku tak ingin engkau seperti Romeo karena aku hidup bukan untuk mati bersamamu seperti Juliet. Aku tak berharap kisah ini seperti romance picisan pada kiranya sebuah film. Yang ku ingini hanya benar-benar kisah antara nama ‘aku’ dan ‘kamu’ . Mencintaimu itu tak mudah, bila memang harus patah, itu sudah sejak dulu. Bila memang harus berhenti, itu sudah ku mulai namun tak kunjung selesai. Begitulah, aku membencimu dengan cara seperti itu.

Senin, 23 Januari 2017

Melayang di Atas Awan

        Jatuh cinta bukan lagi hal asing bagi remaja, bahkan seusia muda adalah hal paling bahagia ketika mengenal cinta. Tunggu dulu, apa benar bahagia?
           Jatuh cinta mampu merubah segalanya di depan mata. Ketika melihat pohon pisang, bagaikan sedang melihat pohon natal.
Cinta pada pandanga pertama. Kenali dulu, apakah itu cinta atau nafsu?
Cinta mampu membuat kita bertindak gila sewajarnya. Bagaimana rasanya jatuh cinta?
Bagaikan terbang melayang di atas awan. Bahkan kita sering tersenyum sendirian tanpa sebab. Hati bagaikan sedang tumbuh berbunga-bunga di taman. Ketika ia ada di depan mata, mulut seakan tercekat tak mampu berbicara walaupun sudah berlatih belasan kali sebelumnya. Jantung berdetak lebih cepat dari biasanya hingga kita harus menyembunyikannya dengan cara terbaik agar tak telihat olehnya. Tangan yang gemetar hanya mampu berada di atas paha di bawah meja, lalu pipi mulai merah merona. Mataku memandangmu seakan tak ingin berkedip sekalipun. Kaki yang biasanya tegar menjadi tumpuan namun berubah lemas tak berdaya. Ini perasaanku, ketika melihatmu tersenyum, hati langsung beku seperti es yang keras membatu. Entah bagaimana lagi aku harus mengontrolnya. Aku sudah terlanjur melayang di atas awan hingga lupa bahwa aku bisa saja jatuh seketika.
Ribuan masalah di kepala yang berhari-hari menjadi beban pikiran, tiba tiba menjadi ringan. Mengapa? Karena kita lupa akan masalah itu. Kasmaran adalah pengaruh terkuat dalam setiap inci tindakan. Kasmaran adalah salah satu perusak fokus pikiran. Jatuh cinta, tentang hati dan perasaan yang mendominasi diri, bahkan logika sedang terabaikan, lalu merajuk walau tertekan. Terkadang apa yang kita lakukan menggambarkan perasaan yang dialami. Suatu kegembiraan hati, rasa senang, serta kebahagiaan begitu sulit untuk tertutupi, sama halnya perasaan patah hati, rasa sedih, serta kehancuran. Jatuh cinta bukanlah hal yang harus dihindari dan ditakuti. Setiap orang berhak untuk jatuh cinta. Setiap orang yang tertarik kepada lawan jenis yang siap memutuskan jatuh cinta maka ia harus siap untuk jatuh dan patah. Setiap pilihan dan keputusan memiliki resiko yang harus dihadapi bukan untuk dihindari. Perasaan suci dan murni lahir dari suara hati, yang membawa naik tinggi, terbang dan melayang di atas awan. 

Senin, 02 Januari 2017

Jadi, Kita Ditakdirkan Untuk Bersama

                Demi do’a yang ku panjatkan pada Tuhan, akhirnya dia adalah jawaban atas setiap baitnya. Akhirnya aku dipertemukan dalam barisan kata dan bahasa yang indah. Lantunan Surat Makkiyah ialah bumbu sedap dalam setiap menuku setiap harinya. Ia bagaikan sebuah pagar yang melindungiku agar tak terjatuh, pegangan tanganku dalam setiap reruntuhan. Tuhan mendengarkan bisik tangisku tiap malam kelabu.
               Kita yang dahulu terpisah ribuan kilometer jauh jaraknya, akan dipertemukan jika waktunya tiba. Jangan kuatir akan kesendirian yang sepi mengikuti, karena Tuhan tlah merencanakan waktu yang tepat untuk kita. Tuhan tak tidur, Tuhan mendengar setiap bisik keluh. Kita yang dahulu tak mengerti siapa, kini aku bahagia ketika engkau datang mengkhitbah lewat ayahku.
                Pertemuan ini adalah hari paling indah dalam setiap hari dari hidupku. Ternyata engkaulah pangeran yang dipaketkan oleh Tuhan. Hari ini jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya seolah tak mau berhenti segera. Yang ku mengerti, inilah kehendak Tuhan begitu dekat mengalir mendarah daging lebih dekat lagi dalam setiap urat nadi. Ternyata engkaulah yang dititipkan Tuhan untuk menemani hidupku. Badai ataupun puting, dialah yang akan ada disisiku di dunia ini. Ternyata engkaulah teman hidupku meraih ridhlo Tuhan di dunia ini, ternyata engkaulah setitik cahaya yang akan menuntunku dalam ruang gelap. Jadi, kita ditakdirkan bertemu untuk membangun keimanan bersama. Kita adalah satu, kita dipertemukan oleh kemurahan hati Sang Maha Kuasa.

                Then, we life happily ever after. I’m born to be yours and you born to be mine. 

Selasa, 20 Desember 2016

The White Roses

One day I saw a flower looks so beautiful. White colors attract the attention of my eyes. White as the sparkle in the sun, symbolizes sincerity and purity.

Setiap wanita pasti menyukai cantiknya bunga, baik mahkota yang menawan, warna yang menarik, bahkan harumnya yang mempesona. Bunga adalah salah salu ciptaan Tuhan yang sangat indah. Warna bunga seringkali dimaknai tersendiri oleh sebagian orang di dunia. Pada kesempatan ini, penulis ingin membahas tentang Bunga Mawar Putih. Secara alami mawar putih seringkali hadir untuk melambangkan sebuah kemurnian, ketulusan, kehormatan dan kepolosan. Mawar putih melambangkan cinta sejati, tulus, dan murni. Jika kamu menerima bunga mawar putih dari pasangan, seringkali diartikan sebagai wujud cintanya yang tulus, maka itu kamu adalah seseorang yang beruntung karena begitu dicintainya. If interest was given to a lover who we love, then he will be sure that we really love and appreciate him. Keberadaan mawar merah pun mencirikan atas cinta sejati, namun hal ini tak menggeser keberadaan mawar putih, dimana bunga ini tetap mempertahankan simbolisme kemurnian, demikian sehingga bunga mawar putih tetap menjadi bunga yang melambangan cinta sejati dan tulus karena kemurniannya.

The white roses is also known as wedding flowers. Mawar putih merupakan bunga pernikahan tradisional, representasi dari persatuan, kebajikan dan kemurnian oleh ikatan yang baru dari cinta.  Mawar putih seringkali dimaknai sebagai lambang cinta yang muda. Keberadaanya sangat cocok untuk the wedding decoration yang menyesuaikan tema pernikahan, hal ini diperkuat karena mawar putih diartikan sebagai kemurniaan, ketulusan serta kesucian.

This roses is also suitable to give to uor friends. Mawar putih juga cocok diberikan kepada teman dekat, hal ini karena mawar putih dipercaya sebagai simbol persahabatan sejati. Dimana sebagai teman kita saling menghargai dan menghormati sebagai sahabat yang sejati.

The white roses are used as a form of giving sympathy. Mawar putih juga sangat berkaitan dengan kehormatan dan penghormatan. Keberadaan mawar putih diwujudkan sebagai rasa simpati, digunakan untuk mengenang almarhum kekasih. Mawar putih dimaknai sebagai simbol peringatan, ungkapan cinta yang spiritual (ketulusan cinta sejati) dan penuh penghormatan.

The white roses symbolized as virgins. Kuntum mawar putih sendiri seringkali dimaknai oleh sebagain orang sebagai lambang gadis perawan dimana orang dahulu memberikan pesan bahwa seorang gadis masih muda untuk jatuh cinta. Hal ini dipercaya bahwa mawar putih melambangkan kepolosan dan kesucian.

Mawar putih dapat diartikan atau dimaknai banyak hal oleh banyak orang yang berbeda, baik budaya yang berbeda maupun pengaruh zaman, perubahan seringkali terjadi secara viral, dunia modern dan dampak globalisasi yang tak bisa dihentikan. Berbagai makna tertentu dari mawar putih kini mampu berubah, tergantung bagaimana cara seseorang itu menghargai keberadaannya. Mawar putih dapat melambangkan awal yang baru maupun sebagai wujud perpisahan. Pada dasarnya, semua pesan yang disampaikan melalui mawar putih adalah wujud kemurnian dan ketulusan, baik ungkapan rasa cinta, rasa hormat maupun harapan baru.

Senin, 12 Desember 2016

Melekat dalam Ingatan

       Di malam hari yang sunyi, aku sendiri terpaku menatap langit memandangi cahaya kelap-kelip. Fikiran ku melayang seolah-olah aku tak sadarkan diri. Aku teringat dengan sosok seseorang yang kini singgah di hati ku. Entah mengapa dia selalu menghampiri fikiran ku sehingga aku selalu terbayang-bayang sosok itu. Sosok itu adalah seseorang yang ku kenal sepuluh bulan yang lalu. Awalnya pertemuan itu tak ada artinya, tak sengaja menyapa melalui sebuah nama yang tertulis pada kemeja, namun setelah beberapa bulan aku pun masih mengingatnya. Hembusan angin samar-samar menambah suasana sunyinya malam. Ku dengar suara lonceng jam dinding di kamar ku yang telah menunjukkan angka duabelas hingga menyadarkan lamunan ku, ini sudah tengah malam. Ku geletakkan tubuh ku diatas kasur tempat tidur ku, tarik selimut bersama satu putaran lagu penghantar perjalanan ku ke pulau kapuk.
       Suatu hari ku temui sosok itu, tak heran ia selalu tersenyum manis di depan ku dan kita selalu asik bercanda gurau seakan kita memang benar-benar dekat setelah pertemuan itu. Kita selalu bertemu bersapa dan berjalan berama-sama. Ku dengar suara kicauan burung-burung yang nampak beterbangan bergerombol mengepakkan sayapnya di atas langit. Kicauan burung cukup jelas ku dengar bagaikan sedang bernyanyi bersama, lalu hembusan angin kencang menghampiri ku. Aku pejamkan mata ini sejenak menghindar dari debu-bedu, lalu ku buka mataku. Aku masih berbaring diatas kasur, hari sudah pagi. Bukan hanya sekali aku bermimpi bertemu dirinya. “jika mimpi ku lebih indah, maka aku tak ingin bangun” hanya kalimat itulah yang sempat ku fikirkan setelah ku buka mataku lebar-lebar. Segera ku beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.
       Siang ini matahari menyinari menyengat kulit kering ini. Mata ku tak lagi mampu melihat jelas dalam kesempitan ruang yang terpisahkan oleh jarak yang cukup mengganggu pandangan ku. Sesekali aku masih mencari sosok itu, dimana aku bisa menemukan dalam ruang sempit bersama segerombolan pemuda yang sedang asik berbincang-bincang melontarkan kata-kata hingga berharap dapat ku perhatikan walau hanya dari kejauhan. Pengharapan ku terlalu tinggi untuk bisa melihatnya siang ini, beberapa kali ku lirik jam tangan memandangi jarum berputar detik ke detik namun sosok itu pun tak kunjung ku temukan. Mencari kesempatan mengalihkan pandangan ku ke kanan dan ke kiri dan berpura-pura seolah tak terjadi sesuatu yang membuat orang lain penasaran dengan apa yang sedang ku cari. Hal semacam ini mungkin sudah ku lakukan puluhan kali, menyapa dan berbicara bersama mereka teman-teman seperjuangan ku menjalani aktivitas tiap hari seolah hanyut mendalami peran ku dalam masalah ku sendiri di dunia ini, namun tidak dengan fikiran ku yang masih memusat mencari sosok dalam ingatan ku. Lagi dan lagi aku dituntut untuk berperan profesional seperti semestinya.
       Kesibukan tak membantu ku melupakan bayangan itu dalam benak ku, seolah telah melekat bersama saraf-saraf yang ada pada otak ku. Aku berusaha terbaik menjalani kewajiban ku lima waktu sedisiplin yang ingin ku lakukan hingga berusaha menghilangkan rasa malas yang selalu menggoda diri yang nista ini, bahkan bayangan dirinya seolah mengingatkan untuk meminjam namanya dalam setiap sujud ku. Herannya aku merasa nyaman terjatuh, terjatuh dalam perasaan yang salah. Ini bukan lagi candu, memparasit seolah apa yang ku lakukan sepuluh bulan ini tak terlepas olehya. Hati dan fikiran seakan berkompromi selalu berangan-angan dan bermimpi dirinya. Dirinya seperti ambisi atau hanya sebuah ekspektasi hingga aku sudah tak mengerti bagaimana caranya berhenti. Bahkan aku merasa sedih atau senang seperti hanya mimpi.
       Sore ini aku termenung sendiri, fikiran ku melayang, hanyalah bayangan dan wajah dirinya yang ada dalam benak ku. Ku coba untuk memejamkan mataku sejenak justru bayangan itu mengikutiku lebih tajam, ku kedipkan mata ku setiap dua detik namun tiada berkutik menghilang justru semakin terlihat jelas. Ia selalu ada dalam ingatan ku. Aku mengerti, aku memahami, aku menyadari apa yang telah ku lewati, semua seakan tak pernah terpisahkan oleh bayangan dirinya.  

Selasa, 22 November 2016

Lebih Baik Berhenti daripada Memaksakan

Pernahkan engkau mendengar tentang cinta sepihak atau cinta bertebuk sebelah tangan? Dua dari keadaan tersebut berbeda namun hampir sama. Intinya sama-sama sebuah cinta yang tak bisa berbalas. Ini tentang hati, tentang perasaan, tentang cinta.. cinta yang sempat kau sebut sebagai anugrah Tuhan, ya memang benar adanya. Cinta yang tumbuh dari dalam hati yang tulus tanpa memandang apa mengapa dan karena apa. Cinta yang tak beralasan itulah yang disebut cinta sesungguhnya. Namun cinta tak selalu mampu menyatukan dua hati. Ada cinta yang tak terbalas. Semua akan baik-baik saja jika dalam apapun itu berjalan bersama, sederhananya jika kau menambahkan kata “saling” padanya. “mereka adalah pasangan yang saling mencintai” ungkapan ini apakah mampu kau sebut relationship goal?

Siapapun pasti pernah mengalami jatuh cinta, bukan hanya di usia muda namun orang matang pun tahu dan berhak merasakannya. Seseorang yang jatuh cinta biasanya ia mendadak gila. Bahkan cinta mampu merubah seseorang menjadi orang lain maksudnya tidak seperti jati dirinya sendiri. Namun apa yang terjadi jika cinta tak berbalas? Bukan hanya hati yang sakit namun pikiranmu saja sudah tak karuhan. Mungkin inilah yang bisa kau sebut dengan “patah hati” dimana ketika cinta yang kamu miliki untuk orang lain itu tak mampu diterima karena ia tidak memiliki perasaan yang sama, ia tidak memiliki cinta yang sama seperti yang kamu miliki untuknya. Patah hati, terlalu sakit dirasakan namun tidak berdarah.

Tiada yang bisa kau salahkan, bukan karena cinta yang salah. Cinta bukan sebagaimana harus memiliki, namun cinta itu mengikhlaskan. Cinta tidak seharusnya memaksakan, karena semakin engkau menggali lebih dalam semakin dalam pula luka dihatimu. Sesuatu yang dipaksakan tak akan berjalan  mulus seperti harapan semestinya, justru akan melukai diri sendiri. Siapa saja yang patah hati akan cinta yang tak terbalas berhentilah daripada memaksakan, bukan berarti menyerah dalam perjuangan bukan pula pasrah sebelum berjuang, namun cinta itu perlu mengikhlaskan. Semua akan indah pada waktunya masing-masing, disaat waktu yang tepat. 

Rabu, 02 November 2016

Menanti

Hari ini begitu gelap dalam benakku, matahari yang bersinar terang kemudian meredup seketika. Awan hitam mulai mengikis cahayaku. Entah sudah berapa lama aku duduk termenung menyaksikan orang berlalu lalang tanpa tujuan. Aku pun tak paham apa yang aku tunggu dan apa yang aku nanti. Kemudian siapa yang akan datang dan kembali pulang saja sama sekali tak terfikirkan dalam benakku, tapi sayangnya aku benar-benar masih mengingat satu wajah. Aku ingin dia datang dalam hidup nyataku bukan hanya sekedar mimpi dan angan-angan.
“Aku menunggumu, disini aku menantimu..” Kesabaranku selalu terombang-ambing teruji, dan entah sampai kapan aku mampu bertahan atau aku akan berhenti hingga menyerah. Waktu mengikis menggerogoti harapan namun keyakinan serta perasaan justru menggali lebih dalam. Aku terlalu bodoh untuk menunggu.. karena dia sungguh tak akan datang seperti yang selalu diharapkan. Aku terlalu bodoh untuk menanti.. bahkan dia membalas sepucuk suratku saja tak pernah apalagi melontarkan senyum dihadapan. Aku terlalu bodoh untuk berharap.. karena dia tak pernah mengharapkan keberadaanku.
Pengharapanku terlalu tinggi untuk bisa melihatnya hari ini, beberapa kali ku lirik jam tangan memandangi jarum berputar detik demi detik, tapi dia pun tak kunjung ku temukan. Aku memang bodoh hingga aku lupa sudah berapa tahun lamanya ku habiskan hanya untuk menanti. Kegiatan yang membosankan menunggu yang tak kunjung datang hingga musim berganti.
Aku sudah sangat lelah seperti berada pada ujung daun yang tak tahu arah. Aku sudah mulai layu menunggu sinar kembali. Sepertinya sudah saatnya aku menyerah dan pasrah. Aku sudah letih melewati semua ini tapi,  ternyata Tuhan memberikan jalan lain, aku selalu diberi kesabaran lebih seakan tak pernah habis. Ketika logika meminta untuk berhenti namun hatiku menolak untuk menyerah. Ketika langkahku mulai berjalan mundur namun pikiranku justru mendorong maju. Pada akhirnya aku masih disini menunggunya, entah sampai kapan aku harus berhenti.